Cerita rakyat dan dongeng merupakan bagian dari setiap budaya sejak usia. Ketika datang ke cerita rakyat India, negara yang berbeda agama, bahasa dan budaya yang telah menyelesaikan berbagai cerita dan cerita pendek. Cerita rakyat Indian memiliki beragam cerita legenda dan mitologi, yang muncul dari semua jalan-jalan kehidupan. Berbagai cerita yang menarik dari luar biasa ‘Panchatantra’ ke ‘Hitopadesha’, dari ‘Jataka’ ke ‘Akbar-Birbal’.

Tidak hanya ini, yang besar, seperti India epos ‘Ramayana’, ‘Mahabharata’ dan ‘Bhagvad Gita’ yang penuh dengan cerita yg terinspirasi dari kehidupan jiwa besar. Yang penuh dengan nilai-nilai moralistic, cerita rakyat India membuat sempurna cerita untuk anak-anak, yang perlu, instilled dengan nilai kanan. Semua cerita kuno ini telah disampaikan dari generasi ke generasi, perbudakan yang membuat nilai-nilai tradisional dengan generasi sekarang-hari.

Secara umum, cerita rakyat dan dongeng India dapat diklasifikasikan kedalam 3 kelompok besar, yaitu : Cerita Hitopadesha, Cerita Jataka dan Cerita Panchatantra. Anda dapat mengetahui penjelasan dari setiap cerita dengan meng-klick pada judul sub-bab berikut :

Hitopadesha Tales

Hitopadesha yang luar biasa adalah kompilasi cerita pendek. Terdiri oleh narayana Pandit, telah Hitopadesha asal nya sekitar seribu tahun yang lalu. Literatur di India, yang Hitopadesha dianggap kurang lebih sama dengan Panchatantra. Pada lapisan yang Panchatantra, Hitopadesa yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta dan mengikuti pola prosa dan ayat.

Hitopadesh cerita yang ditulis dalam cara reader-friendly, yang juga memberikan kontribusi bagi keberhasilan ini terbaik penjual setelah ‘Bhagwad Gita’ di India. Sejak asal, Hitopadesa telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa bagi para pembaca di seluruh dunia.

Salah satu yang paling banyak membaca buku Sansekerta di India, Hitopadesha pernyataan adalah cerita pendek yang memiliki harta tak ternilai dari moralitas dan pengetahuan. Setelah Bhagwad Gita, Hitopadesha dianggap sebagai penjual terbaik di India. Hitopadesh dari pernyataan yang ditulis dengan sangat logis dan cara yang jelas dan satu tidak harus

membuat banyak upaya untuk mengetahui apa yang moral adalah memberikan cerita tertentu. Rencananya terinspirasi dari Panchatantra dan sederhana cerita yang melibatkan burung dan binatang.

Hitopadesha telah berasal dari dua kata, Hita dan Upadesha. Pada dasarnya berarti untuk pengacara atau nasihat dengan hikmat. Penulis Hitopadesha, Narayana Pandit mengatakan bahwa tujuan utama menciptakan Hitopadesha adalah untuk menginstruksikan muda pikiran dengan cara yang mereka belajar falsafah hidup dan dapat tumbuh menjadi dewasa dan bertanggung jawab orang dewasa. Cerita yang sangat menarik dan muda tidak hanya menemukan itu menarik, tetapi juga menerima dengan mudah.

Dikatakan bahwa gubahan ini ditulis hampir satu milenium lalu oleh Narayana Pandit. Walaupun telah terinspirasi dari Panchatantra, dalam berbagai pernyataan di Hitopadesha sangat luas. Ia telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan telah diedarkan di seluruh dunia. Adalah mengherankan populer di banyak negara dan salah satu yang paling banyak membaca buku anak-anak. Bahkan di dunia saat ini, ini terus berlanjut untuk orang terpaksa dengan sederhana namun bermakna cerita dan masih banyak orang yang terinspirasi oleh pernyataan dari Hitopadesha. Yang sederhana dan logika adalah apa yang membuatnya menjadi favorit di kalangan anak-anak dan orang tua mereka.

Jataka Tales

Kitab Jataka adalah sekumpulan cerita fabel (cerita tentang binatang) yang diperkirakan ditulis pada tahun 300 SM. Kitab ini bercerita tentang kehidupan-kehidupan sang Buddha ketika masih berwujud hewan, sebelum beliau menitis menjadi Siddharta Gautama. Setiap kali sang Buddha yang menitis menjadi hewan atau bahkan pada sekali peristiwa sebuah pohon, dikisahkan. Setiap Jataka ditulis dalam bentuk prosa, namun pada akhir cerita, ditulis moral cerita dalam bentuk seloka.

Cerita – cerita di dalamnya sarat dengan nilai-nilai pengetahuan dan ajaran moralitas. Semenjak itu, Kitab Jataka telah menjadi kumpulan cerita yang menyenangkan dan dikenal secara luas. Pada awalnya buku Cerita Jataka ditulis dalam bahasa Pali dan dimaksudkan untuk menyampaikan nilai-nilai kejujuran, moralitas, dan nilia-nilai kebaikan lain secara informatif kepada masyarakat waktu itu. Hingga kini Cerita Jataka yang mengandung nilai-nilai Buddhisme itu telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa yang berbeda di seluruh dunia.

Cerita di dalam Kitab Jataka jumlahnya kurang lebih ada 547. Terjemahan kitab Jataka banyak diketemukan di Sri Lanka, Nepal, dan Tibet. Sementara di Indonesia cerita Jataka tidak diketemukan dalam bentuk tekstual, namun banyak didapati cerita-cerita Jataka sebagai relief Candi Borobudur. Selain itu, ada kemungkinan cerita-cerita Jataka pada masa lampau diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan menjadi dasar fabel Aesopus.

Panchatantra Tales

Kitab Panchatantra adalah kumpulan cerita pendek dari India. Awalnya terdiri dalam 2. Abad SM, Panchatantra diyakini akan ditulis oleh Vishnu Sharma bersama dengan banyak ulama lainnya. Tujuan komposisi di belakang adalah untuk menanamkan nilai-nilai moral dan keterampilan dalam pemerintahan muda anak-anak raja.

Pañcatantra ini mengisahkan seorang brahmana bernama Wisnusarma yang mengajari tiga pangeran dungu putra prabu Amarasakti mengenai kebijaksanaan duniawi dan kehidupan, atau secara lebih spesifik disebut ilmu politik atau ilmu ketatanegaraan. Ilmu pelajarannya terdiri atas lima buku, itulah sebabnya disebut Pañcatantra yang secara harafiah berarti “lima ajaran”. Lima bagian ini merupakan lima aspek yang berbeda dari ajaran sang brahmana ini. Bagian-bagian tersebut di dalam buku bahasa Sansekerta yang berjudulkan Tantrakhyāyika dianggap sebagai redaksi Pañcatantra yang tertua. Kelima bgian tersebut antara lain :

(1) Mitrabheda (Perbedaan Teman-Teman), (2) Mitraprāpti (Datangnya Teman-Teman), (3) Kākolūkīya (Peperangan dan Perdamaian), (4) Labdhanāśa (Kehilangan Keberuntungan), dan (5) Aparīkṣitakāritwa (Tindakan yang Tergesa-Gesa ). Ciri khas Pañcatantra ini terutama ialah bahwa ceritanya dikisahkan dalam bentuk cerita bingkai dan banyak mengandung fabel-fabel. Cerita bingkai ini juga disebut dengan istilah kathāmukha dan cerita-ceritanya semua dianyam menjadi satu dengan yang lain. Setelah setiap cerita yang biasanya dalam bentuk prosa, moral cerita diringkas dalam bentuk seloka.

Catatan :
Untuk berlangganan dongeng-dongeng terbaru dari kami, silahkan mendaftar melalui link “Subscribe to Feed” yang berada pada pojok kiri atas atau silahkan Klick di Sini. Kami tidak akan mengenakan biaya apapun alias Gratis !